Para ilmuwan menemukan kopi mungkin memiliki potensi untuk mengurangi stres emosional dan fisik. Caranya adalah kopi mempengaruhi zat kimia di otak untuk membuat seseorang waspada, dampaknya neurotransmitter membantu tubuh melawan gejala stres.
Sebuah studi yang dilakukan di Jepang menyelidiki kopi dan komponennya seperti kafein dan asam chlorogenic (sejenis antioksidan nabati) serta manfaatnya pada daerah hippocampus di otak tikus.
Peneliti melihat interaksi kopi dengan senyawa kimia di otak serotonin dan dopamin, keduanya merupakan neurotransmitter yang terkait dengan emosi. Hasilnya kopi mengurangi senyawa kimia stres di tikus saat mengalami kondisi stres. Hasil ini dilaporkan dalam Neuroscience Letters tahun 2002.
Pekerja yang mengonsumsi banyak kopi justru memiliki tingkat hormon stres kortisol yang tinggi di malam hari setelah seharian bekerja. Kondisi ini tentu saja mempengaruhi kemampuannya dalam mengambil keputusan.
Minggu, 11 Januari 2015
Para ilmuwan menemukan kopi mungkin memiliki potensi untuk mengurangi stres emosional dan fisik. Caranya adalah kopi mempengaruhi zat kimia di otak untuk membuat seseorang waspada, dampaknya neurotransmitter membantu tubuh melawan gejala stres.
Sebuah studi yang dilakukan di Jepang menyelidiki kopi dan komponennya seperti kafein dan asam chlorogenic (sejenis antioksidan nabati) serta manfaatnya pada daerah hippocampus di otak tikus.
Peneliti melihat interaksi kopi dengan senyawa kimia di otak serotonin dan dopamin, keduanya merupakan neurotransmitter yang terkait dengan emosi. Hasilnya kopi mengurangi senyawa kimia stres di tikus saat mengalami kondisi stres. Hasil ini dilaporkan dalam Neuroscience Letters tahun 2002.
Pekerja yang mengonsumsi banyak kopi justru memiliki tingkat hormon stres kortisol yang tinggi di malam hari setelah seharian bekerja. Kondisi ini tentu saja mempengaruhi kemampuannya dalam mengambil keputusan.
Langganan:
Komentar (Atom)